DILEMA
Desir angin
sepoy – sepoy begitu dingin menginggapai tubuh renta ini. Daun menari - nari dengan lembut dan riangnya disambut dengan merdunya
suara alunan burung - burung pagi hari. Namun hati ini begitu hampa mengingat kejadian yang ku alami selama
ini.
Aku hidup dengan kepedihan dan kegelisahan yang tak ada henti. Aku berjalan
mengarungi hidup dengan rasa yang hampir mati. Hati dan perasaan ini telah
terlalu hampa untuk dimengerti. Entah apa yang harus aku pahami dan aku resapi
agar sakit hati tidak menjalari tubuh renta yang hampir mati ini.
Kursi kayu yang ada di sebelah kiri tempat tidur itu terlihat sangat tua,
sebaya dengan umurku. Aku tersandar di atas kursi kayu ini, dan membuat
ingatanku kembali kemasa lalu.
Ketika aku duduk – duduk santai di beranda, sebuah mobil sedan mewah
berhenti di depan rumahku. Warnanya yang hitam mengkilat, bagai petir di tengah
malam menyilaukan mataku. Aku terkejut ketika melihat seorang pria yang turun
dari dalam mobil dengan kemeja yang tertata rapi dibalut dengan jas hitam yang
membuatnya seperti seorang pria yang sangat beribawa, sepatu hitamnya juga tak
kalah mengkilat dengan warna mobilnya yang menyilaukan mata.
”Radit,” kataku ketika
dia menghampiriku, ”Ini betul kau Radit? Radit anakku?” dia hanya tersenyum
kecut, aku memeluknya dan mencium dia. Tapi, dia hanya diam membatu di depanku dengan
tatapan tajamnya seakan mengatakan don’t touch me atau jangan sentuh aku!, apa kau
tidak lihat aku dan kau sekarang berbeda? Tapi aku mencoba untuk membuang perasaan itu jauh –
jauh dariku, dan terus memeluknya untuk melampiaskan rasa rindu yang telah tersimpan
bertahun - tahun.
”Lepaskan aku!” katanya
dengan tegas dan dingin.
Aku tersentak dari
tidurku. Suara azan yang menggema membuatku terbangun dari mimpi lamaku. Aku berdiri
dari kursi tua ini dan berjalan sempoyongan kearah sumur untuk mengambil wuduk.
Dalam sholatku, aku
selalu meminta untuk tetap sabar dalam menjalani hidup yang sangat nista ini,
agar aku dapat bertahan. Walau, aku harus dibayangi rasa sakit hati yang dalam.
Selesai sholat aku
membuka pintu dan beranjak keluar, badan ini terhempas begitu saja di atas
kursi bambu tua di depan jendela, mimpi buruk itu kembali menyerang pikiranku
yang tua ini.
”Lepaskan aku!” katanya
dengan tegas dan dingin.
Aku tersentak kaget
melihat sikap dan raut wajahnya yang dulu penuh kasih sayang menjadi sangat
angkuh hanya dalam sekejap mata.
”Apa? ada apa nak?” kataku
lembut dengan air mata yang menggenangi mataku.
”Kau bilang apa
sayang?,” Kataku lagi.
”Lepaskan aku!” katanya
lagi dengan suara yang lebih tinggi.
Air mataku tumpah begitu
saja membasahi pipi ini terus mengalir dengan deras bagai air hujan turun
dengan lebatnya dari atas langit.
”Apa?” kataku, Hati
ini seperti ditusuk oleh duri sakit, perih, bimbang, bahkan binggung. Aku
seperti berada di tengah laut berusaha untuk bertahan agar tidak tenggelam jauh
ke dasar laut.
”Aku kesini hanya
ingin mengatakan kepada ibu, kalau aku tidak akan pernah datang ke tempat kumuh
ini lagi.” Katanya dengan nada penuh kesombongan.
”Apa? tempat kumuh?”
kataku tidak percaya, ”iya tempat ini memang sangat kotor dan menjijikkan,” kataku
dengan cucuran air mata, ”tempat ini memang tempat kumuh,” ulangku lagi dengan
nada keras, ”tempat ini adalah tempat hina, tempat dimana aku membesarkan seorang
anak yang ku sayangi dengan susah payah sampai dia berhasil seperti sekarang
ini. Tapi, karena itu dia menjadi anak durhaka yang tak tahu terima kasih hanya
karena uang.” kataku dengan tersedu –sedu. ”Sekarang pergi!” kataku, ”jangan
injak rumah kumuhku ini lagi dengan sepatumu yang mahal itu, perg!i.” Kataku
dengan berteriak
Dengan raut wajah
tanpa dosa dan kesombongan yang tertanam dalam dirinya dia beranjak masuk ke dalam mobil mewahnya dan
pergi.
Hati ini sakit sekali
lebih sakit dari apapun yang pernah aku alami selama ini, anak yang aku
besarkan dengan susah payah dengan mati- matian. Anak yang aku manjakan,
setelah besar hanya bisa menyakiti perasaanku. Tidak pernah aku memintanya
untuk membalas semua yang aku lakukan untuknya, aku hanya berharap diusiaku
yang sudah senja ini dia menyayangiku.
***
Ayam berkokok dengan
gagahnya. Membangunkanku dari tidur malamku. Tak sadar sendari malam aku
tertidur di atas kursi kayu di beranda rumahku.
Matahari sudah
terlihat naik keatas langit dan mulai menyinari bumi dengan sinarnya yang
sangat panas.
Tapi berlalupun hari
demi hari tak merubah perasaanku yang hancur karena anakku sendiri. Diusia
senja ini aku hidup sebatang kara tanpa ada kebahagian mampir sedetikpun ke
dalam kehidupanku.
Aku berjalan mengitari
sawah yang hijau, dengan tertatarapinya mereka membuat keindahan yang sangat
menenteramkan mata. Melihat itu aku tersandar di dekat pohon kelapa yang sangat
tinggi.
Pikirku melayang
mengingat masa indah 30 tahun yang lalu. Aku dan anakku yang sangat kecil hidup
penuh kehangatan dan kebersamaan. Walaupun kemiskinan melanda kami, dengan
ketegaran dan kebersamaan kami selalu bisa melewatinya dengan mudah.
Tiba- tiba perasaan
gelisah dan marah menyerang pikiranku yang renta ini.
”Astagfirullah ala’zim” kataku dalam hati.
Sebuah mobil sedan mewah menginjak genangan air sehingga tersemprot kearahku.
Dari
arah dalam mobil itu keluarlah seorang lelaki muda berwajah tampan. Wajah yang
tidak pernah bisa aku lupakan. Dengan gayanya yang sangat angkuh, dan tatapan
matanya yang penuh kesombongan dia berjalan kearahku.
Dengan
kesombongan itu dia memberikan uang kepadaku disertai sebuah kalimat yang
begitu menghancurkan perasaanku.
”Segini rasa saya
cukup untuk mengganti bajumu yang kumal itu.” Katanya dengan nada
merendahkanku.
Aku hanya dapat
terdiam, terpaku ditempat itu tapi dengan kesadaran dan kebencian yang besar
aku mengambil dan melemparkan uang itu kewajahnya.
”Mungkin aku yang tua
ini memang miskin, kumuh, dan bahkan bodoh karena aku telah melahirkan anak
biadap seperti kamu.” kataku dengan air mata yang mengalir sangat deras sekali.
Aku lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan membawa kebencian dan kemarahan
yang sangat besar yang sudah memuncak.
Ya, kebencian dan
kemarahanku telah mengalahkan rasa sayang dan kerinduanku kepadanya. Rasa
sayang dan rindu yang aku simpan bertahun – tahun telah terhapuskan hanya dalam
sekejap mata.
Setiap kali aku hanya
bisa menangis, bahkan tertawa melihat tingkah anakku sendiri yang tidak
menyayangiku lagi.
Kebencian dan
kemarahanku kepadanya telah membuat diriku menjadi seorang wanita tua yang
bodoh. Kemarahan itu telah tertanam dan berbuah kebencian di dalam hatiku.
Entah sampai kapan aku
harus menyimpan kemarahan dan kebencian ini, apakah aku harus membawanya sampai
aku mati dan terkubur bersama jasatku untuk selamanya????
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar