Jumat, 27 Januari 2012

DILEMA


DILEMA


Desir angin sepoy – sepoy begitu dingin menginggapai tubuh renta ini. Daun menari - nari dengan lembut dan riangnya disambut dengan merdunya suara alunan burung - burung pagi hari. Namun hati ini begitu  hampa mengingat kejadian yang ku alami selama ini.
Aku hidup dengan kepedihan dan kegelisahan yang tak ada henti. Aku berjalan mengarungi hidup dengan rasa yang hampir mati. Hati dan perasaan ini telah terlalu hampa untuk dimengerti. Entah apa yang harus aku pahami dan aku resapi agar sakit hati tidak menjalari tubuh renta yang hampir mati ini.
Kursi kayu yang ada di sebelah kiri tempat tidur itu terlihat sangat tua, sebaya dengan umurku. Aku tersandar di atas kursi kayu ini, dan membuat ingatanku kembali kemasa lalu.
Ketika aku duduk – duduk santai di beranda, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan rumahku. Warnanya yang hitam mengkilat, bagai petir di tengah malam menyilaukan mataku. Aku terkejut ketika melihat seorang pria yang turun dari dalam mobil dengan kemeja yang tertata rapi dibalut dengan jas hitam yang membuatnya seperti seorang pria yang sangat beribawa, sepatu hitamnya juga tak kalah mengkilat dengan warna mobilnya yang menyilaukan mata.
”Radit,” kataku ketika dia menghampiriku, ”Ini betul kau Radit? Radit anakku?” dia hanya tersenyum kecut, aku memeluknya dan mencium dia. Tapi, dia hanya diam membatu di depanku dengan tatapan tajamnya seakan mengatakan don’t touch me atau jangan sentuh aku!, apa kau tidak lihat aku dan kau sekarang berbeda? Tapi aku  mencoba untuk membuang perasaan itu jauh – jauh dariku, dan terus memeluknya untuk melampiaskan rasa rindu yang telah tersimpan bertahun - tahun.
”Lepaskan aku!” katanya dengan tegas dan dingin.
Aku tersentak dari tidurku. Suara azan yang menggema membuatku terbangun dari mimpi lamaku. Aku berdiri dari kursi tua ini dan berjalan sempoyongan kearah sumur untuk mengambil wuduk.
Dalam sholatku, aku selalu meminta untuk tetap sabar dalam menjalani hidup yang sangat nista ini, agar aku dapat bertahan. Walau, aku harus dibayangi rasa sakit hati yang dalam.
Selesai sholat aku membuka pintu dan beranjak keluar, badan ini terhempas begitu saja di atas kursi bambu tua di depan jendela, mimpi buruk itu kembali menyerang pikiranku yang tua ini.
”Lepaskan aku!” katanya dengan tegas dan dingin.
Aku tersentak kaget melihat sikap dan raut wajahnya yang dulu penuh kasih sayang menjadi sangat angkuh hanya dalam sekejap mata.
”Apa? ada apa nak?” kataku lembut dengan air mata yang menggenangi mataku.
”Kau bilang apa sayang?,” Kataku lagi.
”Lepaskan aku!” katanya lagi dengan suara yang lebih tinggi.
Air mataku tumpah begitu saja membasahi pipi ini terus mengalir dengan deras bagai air hujan turun dengan lebatnya dari atas langit.
”Apa?” kataku, Hati ini seperti ditusuk oleh duri sakit, perih, bimbang, bahkan binggung. Aku seperti berada di tengah laut berusaha untuk bertahan agar tidak tenggelam jauh ke dasar laut.
”Aku kesini hanya ingin mengatakan kepada ibu, kalau aku tidak akan pernah datang ke tempat kumuh ini lagi.” Katanya dengan nada penuh kesombongan.
”Apa? tempat kumuh?” kataku tidak percaya, ”iya tempat ini memang sangat kotor dan menjijikkan,” kataku dengan cucuran air mata, ”tempat ini memang tempat kumuh,” ulangku lagi dengan nada keras, ”tempat ini adalah tempat hina, tempat dimana aku membesarkan seorang anak yang ku sayangi dengan susah payah sampai dia berhasil seperti sekarang ini. Tapi, karena itu dia menjadi anak durhaka yang tak tahu terima kasih hanya karena uang.” kataku dengan tersedu –sedu. ”Sekarang pergi!” kataku, ”jangan injak rumah kumuhku ini lagi dengan sepatumu yang mahal itu, perg!i.” Kataku dengan berteriak
Dengan raut wajah tanpa dosa dan kesombongan yang tertanam dalam dirinya  dia beranjak masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi.
Hati ini sakit sekali lebih sakit dari apapun yang pernah aku alami selama ini, anak yang aku besarkan dengan susah payah dengan mati- matian. Anak yang aku manjakan, setelah besar hanya bisa menyakiti perasaanku. Tidak pernah aku memintanya untuk membalas semua yang aku lakukan untuknya, aku hanya berharap diusiaku yang sudah senja ini dia menyayangiku.


***

Ayam berkokok dengan gagahnya. Membangunkanku dari tidur malamku. Tak sadar sendari malam aku tertidur di atas kursi kayu di beranda rumahku.
Matahari sudah terlihat naik keatas langit dan mulai menyinari bumi dengan sinarnya yang sangat panas.
Tapi berlalupun hari demi hari tak merubah perasaanku yang hancur karena anakku sendiri. Diusia senja ini aku hidup sebatang kara tanpa ada kebahagian mampir sedetikpun ke dalam kehidupanku.
Aku berjalan mengitari sawah yang hijau, dengan tertatarapinya mereka membuat keindahan yang sangat menenteramkan mata. Melihat itu aku tersandar di dekat pohon kelapa yang sangat tinggi.
Pikirku melayang mengingat masa indah 30 tahun yang lalu. Aku dan anakku yang sangat kecil hidup penuh kehangatan dan kebersamaan. Walaupun kemiskinan melanda kami, dengan ketegaran dan kebersamaan kami selalu bisa melewatinya dengan mudah.
Tiba- tiba perasaan gelisah dan marah menyerang pikiranku yang renta ini.
 ”Astagfirullah ala’zim” kataku dalam hati. Sebuah mobil sedan mewah menginjak genangan air sehingga tersemprot kearahku.
          Dari arah dalam mobil itu keluarlah seorang lelaki muda berwajah tampan. Wajah yang tidak pernah bisa aku lupakan. Dengan gayanya yang sangat angkuh, dan tatapan matanya yang penuh kesombongan dia berjalan kearahku.
          Dengan kesombongan itu dia memberikan uang kepadaku disertai sebuah kalimat yang begitu menghancurkan perasaanku.
”Segini rasa saya cukup untuk mengganti bajumu yang kumal itu.” Katanya dengan nada merendahkanku.
Aku hanya dapat terdiam, terpaku ditempat itu tapi dengan kesadaran dan kebencian yang besar aku mengambil dan melemparkan uang itu kewajahnya.
”Mungkin aku yang tua ini memang miskin, kumuh, dan bahkan bodoh karena aku telah melahirkan anak biadap seperti kamu.” kataku dengan air mata yang mengalir sangat deras sekali. Aku lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan membawa kebencian dan kemarahan yang sangat besar yang sudah memuncak.
Ya, kebencian dan kemarahanku telah mengalahkan rasa sayang dan kerinduanku kepadanya. Rasa sayang dan rindu yang aku simpan bertahun – tahun telah terhapuskan hanya dalam sekejap mata.
Setiap kali aku hanya bisa menangis, bahkan tertawa melihat tingkah anakku sendiri yang tidak menyayangiku lagi.
Kebencian dan kemarahanku kepadanya telah membuat diriku menjadi seorang wanita tua yang bodoh. Kemarahan itu telah tertanam dan berbuah kebencian di dalam hatiku.
Entah sampai kapan aku harus menyimpan kemarahan dan kebencian ini, apakah aku harus membawanya sampai aku mati dan terkubur bersama jasatku untuk selamanya????  

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar